D
|
alam dunia akademis kata ambivalen ini sering di identikan terhadap mahasiswa yang
hanya datang ke kampus untuk mengekspos style atau dengan kata lain hanya
memikirkan penampilan dan tidak pernah memikirkan eksistensi dirinya sebagai
mahasiswa, sering melakukan hal-hal yang sebenarnya tak pantas dan tidak layak
dilakukan oleh seorang mahasiswa, membuat kelompok-kelompok tersendiri dan
membahas hal-hal yang tidak bermanfaat (bergosip), mahasiswa-mahasiswa seperti
inilah mahasiswa yang mempunyai pola pikir sempit. Ambivalen ini merupakan
gejala atau fenomena alam ketidak sadaran maka dari itu sebenarnya mahasiswa
ambivalen ini mereka tau bahwa apa yang sering dilakukan oleh mereka itu salah
hanya kurangya kesadaran dalam diri masing-masing, dan itu pun tergantung pada
watak dan kematangan pribadi.
Masalah- masalah seperti ini sering
ditemukan di berbagai universitas dan dia mempunyai dampak yang cukup buruk
bagi para mahasiswa yang dijuluki mahasiswa ambivalen itu karena mereka akan
kehilangan eksistensi diri mereka sebagai seorang mahasiswa, selain itu mereka
akan melupakan hak dan kewajiban diri mereka sebagai mahasiswa.
Karakter mahasiswa ambivalen ini juga
sama seperti karakter mahasiswa opportunis, karena opportunis hanya memikirkan diri sendiri bagai mana datang ke kampus
mendapat ilmu kemudian pulang seperti tidak ada rasa ingin berbagi pengetahuan
mereka kepada orang lain. Ambivalen dan opportunis ini merupakan dua karakter
yang akan membunuh karakter mahasiswa yang sesungguhnya karena dengan
karakter-karakter seperti ini kita akan buta tentang apa itu dunia
kemahasiswaan apa itu sebenarnya gerakan dan aksi seorang mahasiswa akan
kewajiban kita sebagai seorang mahasiswa seperti yang terdapat pada TRI DARMA
PERGURUAN TINGGI dan juga SUMPAH DAN JANJI MAHASISWA itu tidak kita ketahui,
hak kita sebagai seoang mahasiswa untuk mengkritisi.
Coba bayangkan semua mahasiswa berkarakter ambivalen dan
opportunis, bagaimana kita bisa
menyampaikan aspirasi-aspirasi masyarakat? Bagaimana kita bisa menjalankan hak
kita untuk mengkritisi sedangkan kita tidak tau bagaimana gerakan dan aksi
mahasiswa itu. “RAKUS” julukan yang dicari-cari dalam jiwa mahasiswa tidak mungkin
ditemukan jika kita masih berkarakter ambivalen dan opportunis. Sebenarnya
salah karakter-karakter seperti ini, karena yang dicari bukan seperti itu tapi
karakter “MAHASISWA IDEAL” yang biasa
dijuluki sebagai “AGEN OF CHANGE”. Karna mahasiswa yang berkarakter seperti
inilah mahasiswa yang mampu, yang memahami eksistensi diri sebagai seorang
mahasiswa.
Maka bertanyalah pada diri masing-masing APAKAH
AKU MAHASIWA AMBIVALEN?