Jumat, 11 Juli 2014




D
alam dunia akademis kata ambivalen ini sering di identikan terhadap mahasiswa yang hanya datang ke kampus untuk mengekspos style atau dengan kata lain hanya memikirkan penampilan dan tidak pernah memikirkan eksistensi dirinya sebagai mahasiswa, sering melakukan hal-hal yang sebenarnya tak pantas dan tidak layak dilakukan oleh seorang mahasiswa, membuat kelompok-kelompok tersendiri dan membahas hal-hal yang tidak bermanfaat (bergosip), mahasiswa-mahasiswa seperti inilah mahasiswa yang mempunyai pola pikir sempit. Ambivalen ini merupakan gejala atau fenomena alam ketidak sadaran maka dari itu sebenarnya mahasiswa ambivalen ini mereka tau bahwa apa yang sering dilakukan oleh mereka itu salah hanya kurangya kesadaran dalam diri masing-masing, dan itu pun tergantung pada watak dan kematangan pribadi.
Masalah- masalah seperti ini sering ditemukan di berbagai universitas dan dia mempunyai dampak yang cukup buruk bagi para mahasiswa yang dijuluki mahasiswa ambivalen itu karena mereka akan kehilangan eksistensi diri mereka sebagai seorang mahasiswa, selain itu mereka akan melupakan hak dan kewajiban diri mereka sebagai mahasiswa.
Karakter mahasiswa ambivalen ini juga sama seperti karakter mahasiswa opportunis, karena opportunis hanya memikirkan diri sendiri bagai mana datang ke kampus mendapat ilmu kemudian pulang seperti tidak ada rasa ingin berbagi pengetahuan mereka kepada orang lain. Ambivalen dan opportunis ini merupakan dua karakter yang akan membunuh karakter mahasiswa yang sesungguhnya karena dengan karakter-karakter seperti ini kita akan buta tentang apa itu dunia kemahasiswaan apa itu sebenarnya gerakan dan aksi seorang mahasiswa akan kewajiban kita sebagai seorang mahasiswa seperti yang terdapat pada TRI DARMA PERGURUAN TINGGI dan juga SUMPAH DAN JANJI MAHASISWA itu tidak kita ketahui, hak kita sebagai seoang mahasiswa untuk mengkritisi.
Coba bayangkan semua mahasiswa berkarakter ambivalen dan opportunis, bagaimana kita  bisa menyampaikan aspirasi-aspirasi masyarakat? Bagaimana kita bisa menjalankan hak kita untuk mengkritisi sedangkan kita tidak tau bagaimana gerakan dan aksi mahasiswa itu. “RAKUS” julukan yang dicari-cari dalam jiwa mahasiswa tidak mungkin ditemukan jika kita masih berkarakter ambivalen dan opportunis. Sebenarnya salah karakter-karakter seperti ini, karena yang dicari bukan seperti itu tapi karakter “MAHASISWA IDEAL”  yang biasa dijuluki sebagai “AGEN OF CHANGE”. Karna mahasiswa yang berkarakter seperti inilah mahasiswa yang mampu, yang memahami eksistensi diri sebagai seorang mahasiswa.
Maka bertanyalah pada diri masing-masing  APAKAH AKU MAHASIWA AMBIVALEN?